Amalan Ringan Yang Dibalas Istana Megah Di Surga.

103 0

Surga merupakan tempat maha luas yang dipenuhi oleh banyak istana indah di dalamnya. Ia merupakan balasan setimpal bagi orang-orang beriman yang selalu beramal saleh selama hidupnya di dunia. Istana di surga dijanjikan oleh Allah ta’ala kepada orang-orang yang telah  membangun masjid di dunia. Hal tersebut berdasarkan hadis riwayat Ibnu Majah nomer 738 yang bermakna, “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.”

Tak hanya membangun masjid, terdapat beberapa amalan ringan lainnya yang juga berpahala sebuah istana di surga. Salah satunya yang disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad jika seseorang yang membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 10 kali maka, ia berhak mendapatkan istana di surga. Hadis yang juga tercantum di dalam kitab Ash Shahihah karya Syaikh Albani tersebut berbunyi, “Siapa yang membaca qul huwallahu ahad sampai ia merampungkannya sebanyak sepuluh kali, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga.”

Selain itu, mendirikan 8 rakaat salat sunah sebelum duhur juga berbalas istana di surga. Rician dari salat sunah tersebut ialah, 4 rakaat salat duha dan 4 rakaat salat sunah rawatib sebelum duhur. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Ath-Thabrani dalam kitab Ash-Shahihah karya Syakh Albani yang bermakna, “Siapa yang shalat duha empat rakaat dan shalat sebelum duhur empat rakaat, maka dibangunkan baginya rumah di surga.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwasannya seseorang yang melakasanakan salat rawatib sebanyak 12 rakaat dalam sehari juga diganjar dengan pahala serupa. Salat rawatib ialah salat sunah yang dikerjakan sebelum atau sesudah salat wajib yang lima waktu. Rasul bersabda dalam hadis riwayat Muslin nomer 728 yang bermakna, “Barangsiapa mengerjakan shalat sunah dalam sehari-semalam sebanyak 12 rakaat, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi nomer 414 dirincikan bahwa 12 rakaat salat rawatib tersebut antara lain: 4 rakaat sebelum duhur, 2 rakaat sesudah duhur, dua rakaat sesudah magrib dan isya serta 2 rakaat sebelum subuh.

Amalan lainnya yang dibalas dengan istana di surga ialah meninggalkan perdebatan meski dalam posisi benar, tidak berdusta meski sekadar bercanda, dan berakhlak mulia. Hal tersebut senada dengan sabda Rasul dalam hadis hasan riwayat Abu Daud nomer 4800 yang berbunyi, “Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.”

Menutup celah dalam barisan salat juga menjadi salah satu amalan yang berbalas istana di surga. Barisan dalam salat merupakan salah satu syarat sempurnanya salat. Untuk itu sangat dianjurkan setiap muslim untuk meluruskan saf salat dengan merapatkan kaki-kaki dan bahu-bahu di antara mereka. Dilansir dalam kitab Ash-Shahihah sebuah hadis riwayat Al-Muhamili yang bermakna, “Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam saf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karena hal tersebut dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.”

Hal yang lebih menggembirakan bagi orang-orang beriman ialah bahwasannya Allah ta’ala telah menjanjikan surga beserta istananya kepada mereka. Hal tersebut tentunya kabar gembira bagi kita selaku umat muslim. Janji Allah ta’ala tersebut disampaikan oleh Rasul dalam sebuah hadis riwayat An-Nasai yang berbunyi, “Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berhijrah dengan sebuah rumah di pinggir surga, di tengah surga, dan surga yang paling tingggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berjihad dengan rumah di pinggir surga, di tengah surga dan di surga yang paling tinggi. Barangsiapa yang melakukan itu, maka ia tidak membiarkan satu pun kebaikan, dan ia lari dari setiap keburukan, ia pun akan meninggal, di mana saja Allah kehendaki untuk meninggal.”

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim hendaknya kita bersyukur atas anugerah keimanan yang telah dikaruniakan Allah ta’ala dan semoga Dia senantiasa menjaga keimanan yang kita miliki sampai saatnya kita kembali ke alam akhirat yang kekal.

Gugus Febriansyah

Gugus Febriansyah

Pernah menulis di beberapa media nasional seperti BaBe News, Hipwee, Kompasiana dan IDN Times.

Tinggalkan Balasan