Kerugian Besar Bagi Orang Yang Enggan Menikah

67 0

Menikah merupakan tuntunan agama Islam yang diwajibkan bagi setiap orang yang telah mampu menjalaninya. Meski dalam kondisi tertentu hukum nikah dapat berubah, tetapi pada dasarnya menikah dan berkeluarga merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Meski sebagian orang menunda untuk berkeluarga dengan beberapa alasan seperti, masalah pendidikan yang belum rampung, ketidakmampuan secara finansial, urusan karir dan sebagainya.

Padahal, Allah ta’ala telah memberikan motivasi dan jaminan bagi para lajang untuk tidak khawatir mengenai perihal rezeki mereka saat berkeluarga. Di dalam Surat An-Nur Ayat 32 Allah ta’ala berfirman, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Dikutip dari Sunan Tirmidzi nomer hadis 3218 bahwa Allah ta’ala telah berjanji akan memberikan pertolongan kepada tiga golongan manusia, salah satu diantara ketiga golongan tersebut ialah seseorang yang menikah dengan tujuan untuk menjaga kesuciannya.

Rasul pun menegaskan anjuran untuk menikah bagi seseorang yang telah memiliki kemampuan ekonomi melalui sabdanya dalam kitab Shahih Bukhari nomer hadis 5065 dan Sakhih Muslim nomer 1400 yang bermakna, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”

Adapun, beberapa orang yang memilih jalan hidup melajang sungguh kerugian yang sangat besar bagi mereka. Dikutip dari kitab karya Syaikh Albani berjudul As-Silsilah Ash-Shahihah jika menikah merupakan perbuatan yang bertujuan untuk menyempurnakan agama seseorang. Tentu hal itu bukanlah perkara yang sepele. Ulama menjelaskan bahwasannya kebanyakan hal yang dapat merusak agama seseorang ialah dosa yang berasal dari kemaluan dan perutnya. Rasul bersabda dalam hadis riwayat Baihaqi, “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.”

Rasulullah juga menegaskan bahwasannya orang-orang yang sengaja hidup melajang bukanlah termasuk bagian dari umatnya. Dalam hadis yang mashur riwayat Imam Bukhari, Rasul bersabda “…demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa di antara kalian, akan tetapi saya berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur serta menikahi wanita, siapa yang tidak suka sunnahku, maka dia bukan golonganku.”

Tak hanya itu, menikah termasuk ibadah yang menyenangkan. Seseorang yang enggan berkeluarga akan melewatkan pahala besar yang dijanjikan kepada para suami istri. Banyak hal sepele dalam keluarga mendapatkan balasan pahala yang sangat besar dari sisi Allah ta’ala, seperti saling berpandangan, bergenggaman tangan hingga memberikan nafkah.

Sebuah hadis riwayat Maisarah bin Ali menyatakan, “…manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela-sela jari jemarinya.”

Alangkah mudahnya bagi seorang muslim untuk meraih pahala yang besar dalam pernikahan mereka. Bahkan, bercumbu rayu dan menggauli istri mendapatkan balasan pahala dari sisi Allah ta’ala. Dilansir dari kitab Adab Az-Zifaf jika seorang suami yang menggauli istrinya mendapatkan balasan pahala yang sangat besar. Rasul memisalkan jika berzina mendapatkan dosa sebesar itu, maka demikian pula jika bersetubuh dengan pasangan yang halal, maka akan mendapatkan pahala yang setara itu.

Demikian pula nafkah seorang suami untuk istrinya dihitung sebagai sedekah. Bukan sekadar sedekah, tetapi termasuk sedekah yang paling utama dibandingkan menafkahkan harta untuk kebaikan lainnya. Dikutip dari Kitab Riyadush Shalihin, Rasulullah bersabda, “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.”

Sungguh, sebuah penyesalan dan kerugian yang sangat besar bagi seseorang yang menunda pernikahannya hingga kemudian meninggal dalam keadaan lajang. Hal ini disebabkan mereka melewatkan pahala yang sangat besar dalam pernikahan dan membina keluarga.

Gugus Febriansyah

Gugus Febriansyah

Pernah menulis di beberapa media nasional seperti BaBe News, Hipwee, Kompasiana dan IDN Times.

Tinggalkan Balasan