Merdeka Dari ‘Penjajahan’ Produk Impor Di Era Digital, Bisakah?

Merdeka Dari ‘Penjajahan’ Produk Impor Di Era Digital, Bisakah?

Indonesia merupakan pasar e-commerce terbesar di kawasan ASEAN. Sayangnya, hampir 93% barang yang dijual online adalah produk impor. Bisakah Indonesia merdeka dari penjajahan produk impor di era digital?

Gegap gempita belanja online di tanah air memang sedang bagus-bagusnya. Hampir setiap waktu, kita bisa menyaksikan iklan marketplace wara-wiri di berbagai media. Tak lupa, beragam promo menarik hingga diskon besar-besaran pun disertakan untuk memikat setiap orang yang melihatnya.

Alhasil, campaign positif tersebut turut berdampak pada meningkatnya angka pertumbuhan retail online yang mencapai 30-50% pada tahun lalu. Meski tak dapat dipungkiri, beberapa faktor lain juga ikut berperan, seperti perbaikan infrastruktur e-commerce yang meningkatkan trust konsumen untuk berbelanja via internet.

image : jurnalia.com

Bank Indonesia juga mencatat, jika sepanjang tahun 2017 kemarin terdapat sekitar 24,73 juta pengguna internet di Indonesia yang berbelanja online dengan total nilai transaksi mencapai Rp. 85 triliun. Meski sudah terhitung tinggi, tetapi Bank Indonesia memprediksikan jika potensi itu masih bisa jauh lebih besar lagi. Mengingat, jumlah total pengguna internet di tanah air saat ini yang telah mencapai angka 143,26 juta pengguna!

Sayangnya, sebuah fakta memilukan terungkap dibalik semua pencapaian di atas. Menurut rilis data yang dikeluarkan oleh  Kemenko Perekonomian, produk lokal saat ini hanya berkonstribusi sebesar 6-7% dari total produk yang dijual online di Indonesia. Sangat minim sekali jika dibandingkan dengan dominasi produk impor dari Cina yang mencapai 80%. Apalagi, jika menilik fakta bahwa Indonesia merupakan pasar e-commerce terbesar di kawasan ASEAN.

Produk lokal semakin tak berdaya, sebab kebanyakan produk impor dibanderol dengan harga yang jauh lebih murah di pasaran. Otomatis, hal itu membuat konsumen lebih memilih untuk membeli produk asing dibandingkan produk lokal. Salah seorang praktisi bisnis, Arif Gampang Utomo dalam tulisannya menyebut fenomena ini sebagai Darurat Nasionalisme.

Lantas, bagaimana solusinya?

Jika mau, sebenarnya kita bisa meniru langkah Australia dalam mengatasi masalah di atas. Sebab, dua dekade silam mereka juga menghadapi problem serupa. Saat itu, Australia membuat kebijakan dengan memberikan label AMO (Australian Made & Own) pada produk mereka. Tujuannya agar masyarakat dapat dengan mudah membedakan antara produk lokal dengan produk impor. Meski, harga produk berlabel AMO lebih mahal tetapi produk tersebut terkenal memiliki mutu yang sangat baik.

Kebijakan tersebut akhirnya membuahkan hasil, sebab bangsa Australia berkomitmen untuk lebih memilih barang buatan lokal yang secara jelas menguntungkan negaranya dibandingkan membeli barang impor yang hanya akan mempertebal dompet segelintir importir.

image : Jurnalia.com

Di Indonesia, hal yang sama seharusnya juga bisa dipraktikkan. Tentunya, jika kita benar-benar serius ingin merdeka dari segala bentuk penjajahan belanja online dan serbuan berbagai produk impor yang semakin membabi buta. Komitmen ini tentunya harus dimulai dari kesadaran setiap individu mengenai pentingnya membeli produk buatan lokal bagi perekonomian bangsa.

Mumpung berada dalam momen kemerdekaan Indonesia ke-73, ada baiknya jika kita selaku anak-anak bangsa kembali memaknai nasionalisme dalam wujud barunya di era modern seperti saat ini. Salah satunya, melalui tindakan nyata untuk mencintai dan membeli produk buatan dalam negeri. Tak hanya untuk kebaikan pengusaha lokal dan para pengrajin semata, lebih jauh lagi hal ini nantinya akan berdampak pada kedaulatan negara di bidang ekonomi digital yang semakin potensial di masa depan.

image: qlapa

Tak sekadar wacana, saat ini beberapa pihak mulai melakukan aksi nyata guna memerdekakan bangsa ini dari penjajahan belanja online. Salah satu pihak yang turut menyuarakan semangat tersebut ialah Qlapa.com. Selama ini, Qlapa market memang telah dikenal luas sebagai marketplace yang hanya menjual produk buatan lokal. Mulai dari berbagai produk fesyen, dekorasi, kuliner hingga pernak pernik handmade yang sangat cocok untuk dijadikan hadiah atau koleksi bernuansa etnik.

Qlapa bekerjasama dengan para pengrajin terbaik di tanah air berusaha menghadirkan produk yang mutunya tidak perlu diragukan lagi. Usaha tersebut merupakan wujud nyata Qlapa market untuk melawan sebuan produk impor di sektor real offline. Sederhananya, Qlapa.com menjadi rumah dan etalase bagi produk lokal untuk menjangkau lebih banyak konsumen yang mau peduli terhadap kedaulatan bangsa di ranah jual beli digital.

Tentunya, semua cita-cita tersebut tidak akan pernah terwujud tanpa kontribusi nyata dari kita untuk mulai mencintai produk buatan lokal. Bagaimana, sudah siap berjuang?

Share:
  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares
Blogger yang menggemari karya-karya agung dari Paulo Coelho dan Dee Lestari. Lebih suka membaca daripada menulis, kecuali ada ada honornya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Skip to toolbar