Puluhan Tahun Sengaja Tak Salat, Bagaimana Cara Menggantinya?

105 0

Salat merupakan ibadah utama yang membedakan antara kaum muslimin dengan golongan di luar Islam. Beda halnya dengan ibadah lain yang bisa ditangguhkan, salat adalah kewajiban mutlak yang harus dilaksanakan dan tak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim selama mereka masih dalam keadaan sadar dan tidak terganggu kesehatan akalnya.

Dalam beberapa kasus, meninggalkan salat merupakan sesuatu yang diperbolehkan. Misalnya ketika seseorang sedang tidak sengaja tertidur, bepergian dalam perjalanan yang jauh atau dalam kesibukan penting yang mustahil untuk ditinggalkan. Namun, dengan catatan ia harus mengganti jumlah salat yang telah ia tinggalkan tersebut di waktu lainnya.

Hukum tersebut berdasarkan sebuah riwayat yang tertulis dalam Sunan At-Tirmidzi karya Imam At-Timidzi. Dikisahkan bahwasannya Rasul pernah meninggalkan 4 waktu salat yakni duhur, asar, magrib dan isya ketika perang Khandaq sedang berlangsung. Beliau menggantinya setelah sempat melakukan salat ketika hari telah gelap. Rasul menyuruh Bilal bin Rabbah untuk mengumandangkan adzan kemudian iqamah. Maka, Rasul bersama jamaah salat pun melaksanakan salat duhur. Setelah itu, Bilal mengumandangkan iqamah lagi untuk melakukan salat asar. Setelahnya, iqamah kembali dikumandangkan untuk melaksanakan salat magrib. Terakhir, iqamah dikumandangkan untuk melaksanakan salat isya berjamaah.

Dilansir dari kitab Al-Hidayah fi Syarhi Bidayati Al-Mubtadi, salah seorang ulama dari mazhab Hanafiyah, Al-Marghinani menjelaskan bahwa seseorang yang terlewat mengerjakan salat dari waktunya, maka wajib baginya untuk mengganti salat tersebut begitu dia ingat. Pelaksanaan salat pengganti tersebut harus didahulukan terlebih dahulu dari salat fardu yang sudah tiba waktunya.

Pendapat serupa mengenai wajibnya mengganti salat yang terlewatkan juga disampaikan oleh ulama dari kalangan mazhab Syafiiyah, Asy-Syairazi dalam kitab Al-Muhadzdzab. Beliau menyatakan jika seorang muslim yang telah masuk usia baligh belum mengerjakan salat hingga terlewat waktunya, maka wajib baginya untuk mengganti atau mengqadha salat tersebut.

Semua mayoritas ulama telah bersepakat bahwa wajib hukumnya bagi seorang muslim untuk mengganti salat lima waktu yang telah terlewat secara tidak sengaja. Hal yang menjadi perbedaan pendapat ialah ketika seorang muslim telah meninggalkan salat secara sengaja dalam kurun waktu yang terlalu lama, misalnya satu tahun atau bahkan sepuluh tahun.

Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla bi Atsar berpendapat bahwa seseorang yang meninggalkan salat secara sengaja baik dikarenakan malas, menganggap remeh atau menunda-nunda waktunya, maka tidak perlu bagi mereka menggantinya. Untuk meringankan timbangan amal buruknya di hari kiamat, dianjurkan bagi para pelakunya untuk bertaubat sepenuh hati dan meminta ampunan kepada Allah ta’ala.

Sayangnya, pendapat Ibnu Hazm tidak didukung oleh ulama lainnya. Bahkan, pendapat tersebut dinilai batil oleh Imam An-Nawawi karena didasarkan pada dalil-dali yang lemah. Sedangkan, mayoritas ulama lainnya lebih condong kepada pendapat yang mewajibkan seorang muslim untuk mengganti salat yang telah mereka tinggalkan, baik disengaja ataupun tidak. Hal ini berdasarkan hadis dari Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Siapa yang terlupa shalat, maka ia wajib melaksanakannya ketika ia ingat. Tidak ada yang dapat menebus shalat kecuali shalat itu sendiri.”

Lantas, bagaimana jika seorang muslim telah meninggalkan salat selama puluhan tahun sehingga tidak terhitung lagi jumlah salat yang telah ditinggalkan?

Banyaknya jumlah salat yang telah ditinggalkan, tidak menghapuskan kewajiban seorang muslim untuk menggantinya. Mengenai hal tersebut, tidak terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ibnu Qadamah dalam kitab Al-Mughni berpendapat, jika bilangan salat yang telah ditinggalkan  terlalu banyak maka wajib bagi pelakunya untuk menyibukkan diri untuk menggantinya. Selama hal tersebut tidak membahayakan kesehatan badannya atau kemanan hartanya. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab Syarah Umdatu Al-Fiqh bahwasannya hal tersebut tetaplah wajib dilakukan selama tidak mengganggu dirinya, keluarganya dan harta bendanya.

Ustad Abdul Somad dalam Bukunya 77 Tanya Jawab Shalat berpendapat bahwa wajib bagi muslim yang meninggalkan salat untuk mengganti salat yang telah ditinggalkannya. Hal tersebut berdasarkan beberapa pendapat yang beliau kutip dari beberapa ulama besar seperti Iman Nawawi dan Ibnu Taimiyah. Lebih lanjut, jika salat yang terlewat telah berlangsung selama puluhan tahun, maka diperintahkan untuk mengambil waktu yang terlama. Misalkan, seseorang ragu antara 10 tahun atau 12 tahun ia telah meninggalkan salatnya, maka lebih aman baginya untuk mengambil waktu 12 tahun. Adapun, jika terdapat kelebihan maka hal terebut terhitung ibadah sunah yang berpahala.

Mengenai tata caranya, beliau mengatakan jika salat pengganti tersebut dapat dilakukan setiap kali seusai melaksanakan salat fardu yang telah tiba waktunya. Misalkan, salat duhur diganti selepas salat  duhur atau salat asar digantikan selepas salat asar. Demikian seterusnya hingga kita menyakini bahwa salat-salat yang telah kita lewatkan telah terganti semuanya.

Gugus Febriansyah

Gugus Febriansyah

Pernah menulis di beberapa media nasional seperti BaBe News, Hipwee, Kompasiana dan IDN Times.

Tinggalkan Balasan