15 49.0138 8.38624 1 0 4000 1 https://jurnalia.com 300 true 0

Ungkap Kebenaran Quran, Teori Big Bang Buktikan Tuhan Itu Nyata

1 Komentar

Perdebatan tentang asal mula penciptaan alam semesta menjadi tema yang selalu menarik untuk dikaji. Hal tersebut sangatlah penting, mengingat besarnya rasa ingin tahu yang dimiliki oleh manusia untuk mengenali siapa sosok agung dibalik terciptanya alam semesta.

Beberapa kebudayaan kuno meyakini asal mula penciptaan alam semesta dalam versi yang berbeda-beda. Dilansir dari bighistoryproject.com, Bangsa Cina kuno meyakini jika dunia ini konon berasal dari sebuah telur berukuran raksasa yang di dalamnya terdapat sosok pahlawan agung yang disebut, Pan Gu. Sosok inilah yang kemudian memecahkan telur raksasa tersebut hingga berhasil mengeluarkan diri dari sana. Bagian telur yang pecah dan berserakan inilah yang kelak akan membentuk langit, bumi dan samudera.

Sosok Pan Gu dalam mitologi Cina. (mistikalem.com)

Sedangkan, Bangsa Yunani kuno meyakini bahwa alam semesta berawal dari sosok misterius yang tidak berbentuk bernama Chaos. Chaos bersama salah seorang istrinya memiliki seorang anak bernama Gaia yang diyakini sebagai Dewi Bumi. Kelak, Gaia juga memiliki seorang anak yang bernama Uranus atau Dewa Langit. Dari pernikahan ibu dan anak inilah, bumi dan segala isinya mulai tercipta.

Gaia, Sang Dewi Bumi dalam mitologi Yunani (fineartamerica.com)

Akan tetapi, seiring dengan berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan sains modern, manusia  menyadari bahwa kisah-kisah tersebut hanyalah sebuah mitos yang tidak dapat diterima oleh nalar dan akal sehat. Dilansir dari buku Penciptaan Alam Raya karya Harun Yahya, seorang filsuf Jerman bernama Immanuel Kant mengajukan sebuah teori modern penciptaan alam semesta. Kant menyatakan bahwa alam semesta tidak mempunyai awal dan akhir. Dia juga menyatakan jika alam semesta telah ada sedari dulu tanpa melalui proses penciptaan. Teori inilah yang menyebabkan paham atheisme saat itu tumbuh subur di Eropa. Meski tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat, pendapat tersebut tersebar luas dan diakui oleh masyarakat Eropa pada abad ke-19.

Immanuel Kant, seorang filsuf asal Jerman. (briewminate.com)

Hingga pada tahun 1920-an, dua orang ilmuwan yang terdiri dari Aleksander Friedmann, seorang ahli matematika dari Rusia dan Georges Lemaitre, seorang astronom asal Belgia mengajukan sebuah teori asal mula alam semesta yang dikenal dengan Teori Big Bang atau Teori Dentuman Besar. Dilansir dari laman britannica.com, teori ini menyatakan bahwa alam semesta pada awalnya merupakan sebuah titik mikroatomik yang memiliki kepadatan dan tingkat suhu yang sangat ekstrim. Adanya tekanan yang sangat besar menyebabkan titik tersebut meledak dan menyebarkan berbagai materi ke semua penjuru jagad raya. Materi itulah yang menjadi cikal bakal terbentuknya bintang, galaksi, planet dan berbagai benda langit lainnya.

Salah satu galaksi di alam semesta. (nytimes.com)

Teori tersebut diperkuat oleh Edwin Hubble, seorang ilmuwan yang melakukan penelitian mengenai usia alam semesta. Astronom asal Amerika Serikat itu menyatakan bahwa hingga saat ini dampak dari ledakan besar tersebut masih terus terjadi di jagad raya dengan adanya radiasi sinar kosmik. Berdasarkan pengamatannya, Hubble menemukan fakta mengejutkan lainnya bahwa jagad raya terus-menerus mengembang dan mengalami perluasan sepanjang waktu.

Alam raya selalu mengembang. (universetoday.com)

Teori Big Bang kemudian diakui kebenarannya oleh NASA selaku Badan Antariksa Amerika Serikat setelah sebelumnya melakukan observasi dengan mengirimkan sebuah satelit ke luar angkasa di tahun 1989. Akhirnya pada Oktober 1994, Scientific American menerbitkan sebuah artikel ilmiah dan menyatakan bahwa model Teori Dentuman Besar adalah satu-satunya kajian yang dapat menjelaskan secara ilmiah mengenai asal mula jagad raya dan pengembangan terus menerus alam semesta.

Peluncuran satelit NASA. (theaviationbusiness.blogspot.com)

Berkaitan dengan berbagai pendapat mengenai asal mula terjadinya alam semesta, Alquran memuat sebuah fakta mencengangkan tentang bagaimana jagad raya bermula. Dikutip dari pidato Dr. Zakir Naik pada saluran Peace TV bahwasannya terdapat beberapa ayat di dalam Alquran yang menjelaskan proses terciptanya alam semesta secara tepat sesuai dengan yang dijelaskan oleh fakta sains modern.

Dr. Zakir Naik mengutip surat Al-Anbiya ayat 30 yang berbunyi, “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Quran menjelaskan terjadinya alam semesta (voqonline.com)

Ayat ini secara lugas menyatakan bahwa alam semesta dulunya berawal dari sebuat materi tunggal. Materi yang memiliki volume hampir nol tersebut memuat semua struktur yang diperlukan untuk pembentukan alam semesta. Hingga kemudian terpisah akibat dentuman maha dahsyat yang terjadi sekitar 13,8 milyar tahun silam. Fakta ini tentunya sangat mengejutkan, mengingat Alquran telah berada di tengah masyarakat Arab pada Abad ke-7 atau sekitar tahun 600-an masehi.

Arab tempo dulu. (wikimedia.org)

Adapun, fakta mengenai semakin meluasnya ukuran alam raya dari waktu ke waktu juga telah disebutkan di dalam Aquran. Allah telah berfirman pada surat Az-Zariyat ayat 47 yang berbunyi, “Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya.”

Menurut Harun Yahya, ayat tersebut mengungkapkan kebenaran lain yang telah diungkap oleh Edwin Hubble pada awal abad ke-20. Hubble mengamati tentang pergeseran warna merah dalam spektrum cahaya bintang yang mengindikasikan jika alam semesta mengalamai perluasan terus menerus dari waktu ke waktu.

Galileo bersama teleskopnya. (universetoday.com)

Dua fakta tersebut berhasil membuktikan bahwasannya Alquran bukanlah hasil karangan manusia bernama Muhammad sebagaimana dituduhkan oleh para orientalis Barat. Mustahil seorang manusia menjelaskan secara tepat mengenai asal usul alam semesta dengan pengetahuan dan peralatan yang sangat terbatas pada zamannya. Apalagi, diketahui jika teleskop modern baru ditemukan pada 1609 oleh ilmuwan asal Italia, Galileo Galilei.

Hal tersebut sekaligus membuktikan bahwa ayat-ayat Alquran merupakan bukti nyata keberadaan Tuhan Yang Mahakuasa yang memiliki pengetahuan tak terbatas atas segala sesuatu yang berada di bumi dan di langit.

Gugus Febriansyah
Sebelumnya
Bahaya Mati dalam Keadaan Menanggung Hutang
Setelahny
Zakat Produktif, Solusi untuk Mengentaskan Kemiskinan

1 Komentar

  • 08/10/2019 di 13:54
    Ratna Widuri

    Masha Allah keren banget…

    Balas

Tinggalkan balasan